Fakultas Psikologi Hadirkan Guru Besar dari Singapura
![]() |
| Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby |
Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya mengadakan Kuliah Umum Stadium Generalle pada Senin, (10/12). Dengan tema ‘International Dispute Resolutions Conciling Technique and Methode with Cognitive Studies’ kuliah umum bertempat di R. Soeparman Hadipranoto Gedung Graha Wiyata lt. 9. Peserta seminar merupakan mahasiswa Sarjana Psikologi, Magister Psikologi dan Magister Psikologi Profesi. Turut hadir Dekan Fakultas Psikologi-Dr. Suroso, MS., Psikolog. Dalam sambutannya dia mengatakan, “Kuliah umum ini merupakan rangkaian Dies Natalis Fakultas Psikologi yang ke-33. Semoga menjadi bagian pengembasan wawasan kami dan tidak fokus pada ilmu Psikologi saja, tetapi bagaimana Psikologi bisa kawin dengan Ilmu Hukum. Sehingga bisa memberikan keputusan yang berkeadilan pada pihak yang bersengketa.”
Tampil sebagai pemateri Prof. Steve Ngo-Chairman, Arbitration, and Dispute Resolution Practice Group, ASEAN Legal Alliance. Sesuai dengan tema dia menyatakan bahwa Psikologi harus mampu membuat keputusan yang berkeadilan pada pihak yang bersengketa sulit menyelesaikan masalah bersama, salah satunya arbitrasi. “Penyelesaian masalah di luar pengadilan itulah arbitrasi. Yang salah adalah arbitrasi disamakan dengan negosiasi dan mediasi. Padahal berbeda. Arbitrasi itu berkaitan dengan hukum. Jangan selalu menganggap kita kuat, karena ketika masuk tahap negosiasi bisa saja kalah,” terangnya. Menurutnya dalam negosiasi perlu adanya alternatif. Karena dalam proses negosiasi ada give and take sehingga bisa ada win win solution. Ada 2 strategi negosiasi, yaitu kompetitif dan kooperatif.
Prof. Steve menuturkan, “Dalam negosiasi harus kita singkirkan emosi karena permasalahan tidak bersifat personal. Yang terpenting, kita harus berpikir positif dan fokus pada hasil bukan kepentingan. Disinilah peran mediator yang mengacu ke dalam ranah Psikologi dibutuhkan. Mengapa Psikologi? Karena Psikolog tidak bertugas untuk menghakimi.” Lebih lanjut dia menambahkan bahwa dalam penyelesaian sengketa budaya memiliki peranan penting. Sekarang budaya menjadi hal yang sulit dipahami. Budaya merupakan kombinasi sejarah, sosiologi dan psikologi. Menurut Prof. Steve kita tidak bisa membuat semua orang mengerti dan melakukan apa yang ada dalam budaya kita karena manusia tidak sama. Apalagi setiap manusia mempunyai kepentingan individual dan kolektif. (um/aep)
| www.untag-sby.ac.id |

Komentar
Posting Komentar